Oh Husein....Oh Husein

Oh..Hussein…Oh Hussein 

 Dicuplik dari Kompasiana
Hari ini, beberapa abad yang lalu, tepatnya 10 Oktober 680 Masehi, Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, terbunuh dalam Pertempuran Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, yang tidak disetujui Husain untuk menjadi khalifah.

Saya menyaksikan sendiri tapak di mana Hussein dibunuh pada hari Minggu, 21 September 2014. Saya ke Karbala (dulunya Padang Pasir yang luas)  bersama staf Kedutaan Besar Indonesia di Baghdad, Irak. Di sinilah tempat cucu Nabi Muhammad SAW yang wajahnya paling mirip dengan Rasulullah, Imam Hussein menutup mata untuk selama-lamanya.
Inilah kesempatan kedua saya ke Irak, setelah pertama kali di akhir Desember 1992 telah melakukan kunjungan ke Irak. Tahun 1992,  saya tidak menyempatkan waktu ke Karbala. Hal ini dikarenakan pemberlakuan Zona Larangan Terbang sepanjang garis paralel 36  di Utara dan garis paralel 32 di Selatan. Larangan terbang ini membuat saya tidak bisa langsung menuju Baghdad, tetapi berhenti di Jordania.
Lalu saya memakai kendaraan apa ke Irak? Jalan darat, melalui Jordanian. Bukan hanya saya, siapa saja yang akan ke Irak, pejabat tinggi kah atau seorang jurnalis seperti saya, tidak kecuali, JALAN DARAT.

Waktu itu jalan yang ditempuh dari Jordania ke Irak melalui jalan darat, secara keseluruhan 885 kilometer yang ditempuh lebih kurang 13 jam.

Tahun 2014, berbeda jauh dengan tahun 1992. Saya tahun 2014 ini, langsung mendarat di Bandara Baghdad. Tetapi suasananya tetap tidak nyaman, membelenggu. Pos- pos penjagaan berdiri di setiap berapa kilometer. Meski saya memakai mobil kedutaan, tetap saja pemeriksaan diberlakukan, walau sebentar.
Perjalanan saya dimulai pada hari Minggu, 21 September 2014, di mana pihak Kedutaan Besar Indonesia di Baghdad mengajak saya berziarah ke makam sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali r.a dan cucu Nabi, Hussein, yang  tewas dengan tidak wajar. Lehernya dipenggal. Saya hadir di tempat itu. Alhamdulillah bisa menyaksikan dari dekat kerumunan manusia silih berganti hadir di sana.

Tangisan-tangisan, seraya meneriakan oh..Hussein…oh Hussein terdengar silih berganti seakan akan, sekali lagi seakan akan tidak percaya, cucu kekasih Allah SWT, dipenggal kepalanya.

Jika berbicara cucu Rasulullah, saya tidak mempersoalkan apakah Syiah atau Sunni atau lain-lainnya, tetapi saya membicarakan, siapa pun atas kehendak Allah, apa pun bisa terjadi. Allahu Akbar. Pada peristiwa di Karbala ini, 103 orang dengan 10.000 pasukan bersenjata lengkap, setelah 3 hari memutus aliran air sehingga mereka berperang dalam kehausan.

Tetapi bagi Imam Hussein sendiri sebagaimana diriwayatkan sebelum berangkat, Imam Hussein berkata pada Ibnu Abbas:

 Sungguh jika aku terbunuh di tempat demikian dan demikian, tentu lebih aku sukai daripada aku mengorbankan kemuliaan negeri Mekah ini

Rombongan Imam Hussein ini berjumlah 70 orang, 30 berkuda dan 40 berjalan kaki bukan dengan maksud berperang.

Setelah peristiwa Karbala, umat yang marah justru para penduduk Hijjaz, Madinah dan Mekkah. Di bawah Pimpinan Abdullah bin Zubair mereka mengangkat senjata menuntut ditegakkanya qisas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni Bersama Wartawan Pelita dan Sripo

ALI ALATAS BENAR, BLAIR MINTA MAAF

Mendiskusikan Profil Mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah