Masih Berbicara Islam Sunni dan Syiah di Irak
Catatan Dasman Djamaluddin, S.H.,M.Hum
Detiknews, Selasa, 05 April 2022 menampilkan foto-foto doa Ramadan dari Tempat Suci Imam Ali di Irak. Keterangannya: "Muslim Syiah berdoa di tempat suci Imam Ali di Najaf, 160 km selatan Ibu Kota Baghdad. Tak sekedar berdoa, alunan atyat Al-Qur'an dilantunkan di bulan suci ini : ".
Saya sudah tentu ingat perkataan Said Agil Siradj di NUonline yang mengatakan setelah Rasulullah wafat, timbul berbagai aliran dalam Islam.
Menurut Agil, beberapa aliran yang muncul di antaranya adalah Kodariyah, Murjiah, Muktazilah, Khawarij, Syiah, dan Ahlusunnah. Dari sekian banyak aliran yang ada, kini dalam perjalanan 15 Abad Islam, tinggal Sunni (Ahlusunnah) dan Syiah yang tetap bertahan, sedangkan lainnya secara nama sudah hilang, meskipun pengaruh alirannya tetap ada dalam berbagai bentuk.
Said meyakini, keberadaan dua aliran yang sudah terbukti mampu bertahan ini akan mampu bertahan jauh di masa depan. Pengikut aliran Syiah memiliki kelebihan berupa militansi yang bagus. Militansi yang intelek, bukan militansi yang ngawur. Dalam kasus Palestina, di wilayah tersebut tidak ada orang Syiah, tetapi Iran lah yang paling menganggap musuh dengan Israel, Hizbullah yang paling menganggap musuh Israel.
Mengenai kepintaran orang Syiah, Said menjelaskan, hal ini bisa dilihat dari latar belakang peradaban Persia yang jauh lebih maju dari Arab. Begitu masuk Islam, tinggal ganti agama, ganti kitab suci Al-Qur’an, tetapi nilai-nilai peradabannya sudah mapan.
Ahli hadits tidak ada orang Arab, tetapi orang Persia semua. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi, imbuhnya.
Ia menambahkan yang menciptakan ilmu nahwu, Imam Sibawaih merupakan orang Persia, yang menciptakan ilmu balaghoh atau kesusastraan bahasa Arab juga orang Persia, yaitu Amir bin Ubaid. Yang pertamakali menjadi mufassir besar, yaitu orang Tabaristan, yaitu Ibnu Ja’far Attabari yang membuat tafsir 10 jilid. Imam Ghozali merupakan Persia. Abu Hanifah dan Imam Hambali orang Persia. Sementara Imam Syafii dan Imam Malik orang Arab.
Mengenai hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah, Kiai Said yang menyelesaikan doktor di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, Mesir bisa menjadi contoh. Mesir dulu ada kelompok Syiah, Sunni, dan Kristen Ortodok. Mereka bisa hidup damai.
Ngak pernah ada konflik mazhab. 10 raja dari Syiah di Mesir dari dinasti Fatimiyah. Yang membangun kota Kairo orang Syiah, yang membangun masjid Al Azhar juga orang Syiah, tandasnya.
Sayangnya, Mesir kini sudah mulai ada yang terseret pada fanatisme kelompok seperti mulai adanya ISIS dan Al-Qaedah.
Pengalaman Pribadi
Dari pernyataan Said Agil Siradj ini, saya yang pernah ke Irak dua kali, yaitu pada bulan Desember 1992 dan September 2014 merasakan hal tersebut.Tahun 2014, saya pergi ke Masjid Al Kufah, masjidnya Ali ra.
Dikutip dari tulisan saya di Kompasiana, 11 Mei 2015, cerita tentang Masjid Al-Kufah di Kufah, Irak terus menjadi inspirasi ketika saya kembali melihat denah masjid tersebut. Ada beberapa nabi yang singgah di bangunan masjid terluas, termegah dan tertua itu, juga beberapa Syuhada. Ketika saya ke sana, September 2014 lalu, memang saya tidak ingin ada perbedaan-perbedaan pendapat, apalagi saya seorang Sunni berkunjung ke Masjid Si’ah.
Yang jelas, Ali r.a sama-sama kita akui sebagai sepupu sekaligus menantu, suami dari anak Nabi Muhammad SAW, Fatimah. Sunni percaya, beliau adalah khalifah ke empat setelah Abu Bakarr r.a, Umar r.a dan Usman r.a, meski terjadi perbedaan antara Sunni dan Syiah di mana Syiah beranggapan bahwa Ali r.a lah yang berhak menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat. Bukannya, Abu Bakar r.a, Umar,r.a dan Usman r.a. Menurut Syiah tidak perlu Ali r.a dipilih karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW. Hendaknya, beliau ditunjuk saja menggantikan Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, Sunni bukan tidak bersedih dengan kematian Ali r.a yang dibunuh, tetapi kesedihan tidak boleh berlebihan.
Nasib Ali r.a sejak memindahkan kantornya di Kufah terasa lama-lama banyak juga yang tidak menyukainya. Belau dibunuh. Yang bisa kita saksikan di tempat Masjid seluas itu, adalah juga ruang kerjanya. Jika ditanyakan di mana makamnya, banyak silang pendapa. Tetapi banyak yang mengatakan, beliau dimakamkanjuga di lingkungan Masjid Al-Kufah tersebut.
Kufah dan Najaf, adalah dua buah kota di Irak. Kufahterletak 10 km di timur laut Najaf, 160 km di selatan Baghdad, diriwayatkan dulunya tempat Nabi Nuh a.s, keluarga, dan kaumnya hidup sekaligus tempat mereka bermukim. Najaf dalam bahasa Arab artinya daerah tinggian atau gunung, jaraknya dari Baghdad sekitar 170 km.
Selain tempat ibadah Nabi Nuh,a.s, adalah juga tempat ibadah Nabi Ibrahim a.s. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, Imam Shadiq masuk Masjid dari pintu al-fil (salah satu pintu masjid yang populer dengan sebutan ini), dan beliau menuju ke arah kiri dan berdiri di samping tiang ke empat kemudian shalat. Perawi mengatakan: saya bertanya kepadanya apakah makam Nabi Ibrahim a.s di sini? Imam menjawab: Iya. Imam Shadiq berkata kepada sebagian sahabatnya:”…shalatlah di makam Nabi Ibrahim a.s yang terletak pada tiang ke lima.
Kembali ke cerita Nabi Nuh a.s, Hadis dari Abu Abdillah r.a, beliau meriwayatkan sabda Nabi Muhammad SAW, Najaf era Nabi Nuh a.s adalah sebuah gunung berapi, gunung ini menjadi tujuan anak Nuh a.s yang bernama Kan’an untuk mencari perlindungan dari banjir besar sewaktu Allah SWT mengabulkan doa hambanya yang sabar dan shaleh Nuh a.s. untuk membinasakan kaumnya yang setiap harinya menyembah patung dan lukisan-lukisan yang dibuat iblis untuk menghibur kaum yang ditinggal pergi oleh keluarganya yang beriman karena telah cukup ajalnya. Beberapa waktu berselang dari banjir bah, Najaf (tiada gunung lain di permukaan bumi yang lebih besar darinya, kala itu) meletus, Allah berkata Wahai gunung, apakah dia (Kan’an) dapat mencari perlindunganmu dari siksa-Ku? Gunung tersebut menjadi murka, menghancurkan tubuh dan akarnya, potongannya sampai berjatuhan ke negeri Syam, debu halusnya bertebaran di permukaan bumi, dan sisanya menjadi lautan, kemudian laut tersebut dinamakan Najaf oleh penduduk sekitarnya. Juga pada malam mikraj, Nabi Muhammad SAW melewati masjid ini dan meminta izin untuk salat dua rakaat di dalamnya.
Setelah dari Masjid Al-Kufah, saya dan staf Kedutaan Besar Indonesia di Irak menginap semalam di kota itu dan besoknya menuju Padang Karbala, tempat di mana anaknya Ali r.a, Hussein, tewas dibunuh di Padang Karbala. Lehernya dipotong musuh. Beliau mati syahid.
Di tengah perjalanan menuju Baghdad, kami singgah ke Makam Nabi Ayub a.s. Berbicara tentang Nabi Ayub, membuka lagi pikiran kita kepada nabi yang sabar menerima cobaan dari Allah SWT, yaitu ditimpa cobaan penyakit.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya’ ayat 83-84Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: (‘Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”
Juga di Al-Qur’an Surah Shad ayat 41 hingga 44: “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan’ (Allah berfirman): ‘Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami mendapati dia (Ayuh) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Tuhannya).”
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Masjid Al-Kufah, Irak, Masjid Bersejarah Ummat Islam", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/dasmandjamaluddin/55530e46739773750cfa2b72/masjid-alkufah-irak-masjid-bersejarah-ummat-islam
Kreator: Dasman Djamaluddin
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com






















Komentar
Posting Komentar