Selamat Ulang Tahun Pak SBY
Potret Susilo Bambang Yudhoyono bersama lukisannya (Twitter/SBYudhoyono)
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru saja hari Jumat, 9 September 2022, genap berusia 73 tahun. Sejumlah ucapan pun mengalir untuknya di media sosial.
Termasuk dari putra sulungnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang mengunggah sebuah video spesial khusus untuk SBY di Instagram pribadinya.
Video tersebut berisi perjalanan SBY sejak muda, kebersamaannya dengan sang istri Ani Yodhoyono, kesibukannya saat menjadi Presiden RI, hingga kesehariannya saat ini setelah tak lagi menjabat sebagai kepala negara.
Secara pribadi, saya melihat foto Megawati yang hadir ketika SBY menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soekarno dan Mohammad Hatta, Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Gelar itu diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.
Pemerintah menilai Dwi Tunggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu telah menunjukkan jasa, perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
"Pada hari ini, selaku Presiden Republik Indonesia, dan atas nama negara dan pemerintah, dengan rasa syukur dan penuh hormat, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Bapak Ir Soekarno dan Bapak Drs Muhammad Hatta, yang selama ini lebih lekat di hati kita dengan panggilan Bung Karno dan Bung Hatta," kata Presiden SBY di Istana Negara, Rabu 7 November 2012.
Gelar diterima langsung oleh ahli waris kedua pahlawan itu. Soekarno diwakili putra sulungnya Guntur Soekarnoputra, dan Hatta diwakili putri sulungnya Meutya Hatta.
Sebelum serah terima, diawali pembacaan Keppres Nomor 83 Tahun 2012 tentang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada DR (HC) Ir Soekarno, yang juga mantan Presiden. Dibacakan juga Keppres Nomor 84 tahun 2012 tentang penganugerahan kepada Dr (HC) Drs Moh Hatta, mantan Wakil Presiden.
Dengan gelar pahlawan itu, SBY mengajak seluruh rakyat Indonesia menghilangkan stigma negatif yang menyertai setiap polemik atas Bung Karno dan Bung Hatta. Stigma yang dimaksud, adalah TAP MPR/S tentang dugaan Soekarno terlibat dalam G30S/PKI, yaitu TAP MPRS Nomor 33/1967.
"Sebagai bentuk kecintaan, penghormatan dan penghargaan kepada keduanya dengan Bapak dan Guru Bangsa ini, kita tinggalkan segala stigma dan pandangan yang tidak positif, yang tidak perlu dan tidak semestinya," kata SBY.
Sebenarnya rakyat Indonesia, melalui MPR dengan ketetapannya, juga telah menghapuskan stigma yang tidak baik yang mungkin ada terhadap Bung Karno, Pahlawan dan Bapak Bangsa. Tentang review ketetapan MPR/S pada masa Orde Baru itu telah dilakukan MPR periode 1999-2004. "Sungguh, beliau berdua, adalah Pahlawan Nasional dan Tokoh Besar bangsa Indonesia," ujarnya.
Sebelum gelar pahlawan nasional, Soekarno-Hatta juga sudah dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator. Gelar itu diberikan pada 23 Oktober 1986.
Pemerintahan Presiden Soeharto saat itu menilai keduanya telah memimpin dan melakukan perjuangan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain mencapai kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu, keduanya juga dinilai melakukan pengabdian dan perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya. Serta dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.
Gelar Pahlawan Nasional kepada Soekarno disambut gembira anaknya, Megawati Soekarnoputri. "Gelar pahlawan yang diberikan pada kedua tokoh nasional ini (Soekarno-Hatta) merupakan suatu hal yang sangat wajar," kata Megawati. Ia mengatakan, pahlawan nasional merupakan gelar paling tinggi dan paling utama dari seluruh gelar yang ada dalam kriteria tanda jasa dan kehormatan.
SBY juga pada tahun 2006 berhasil mengantarkan bangsa ini melunasi seluruh utang kepada "International Monetary Fund (IMF) senilai 60,7 triliun rupiah. Juga di masa SBY, ia mengambil keputusan penting membubarkan "Consultative Group of Indonesia " (CGI yang sebelumnya mendikte arah pembangunan Indonesia.
Hal ini sudah tentu mengingatkan kita ketika Presiden Soeharto terpaksa menandatangani "Letter of Intend" *LoI( dengan Direktur IMF, Michael Camdessu, pada 15 Januari 1998 di Jakarta. Waktu itu kita didikte IMF agar menghentikan produksi pesawat dalam negeri PT. IPTN yang waktu itu dipimpin Menteri Riset dan Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie. Sejak saat itu, dana anggaran dan non anggaran yang digunakan untuk program IPTN harus dihentikan. Akibatnya, program N250 dan "Aerial Navigation Satellite System" terhenti. SBY kemudian telah menyelamatkan muka bangsa Indonesia.
Banyak hal lain yang dilakukan SBY. Di antaranya di bidang pendidikan. Ia memandang pendidikan merupakan salah satu tulang punggung pembangunan nasional. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional minimal 20 persen, SBY berusaha agar guru dan dosen bisa hidup sejahtera. Sepanjang dua kali peride kepemimpinannya, yaitu dari tahun 2004 hingga 2014, maka gaji guru dan dosen telah meningkat sebesar 300 persen.
Sebuah ide brilian SBY adalah membangun Markas Besar Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI di Desa Sukahati, Kecamatan Citereup, Sentul, Bogor. Didirikan di atas tanah seluas lebih kurang 240 ha dengan perincian, area perkantoran seluas 65,8 ha dan area latihan, seluas 156, 94 ha. Juga dibangun rumah dinas, seluas 18,2 ha. Pembangunan ini merupakan ide Presiden SBY, karena pernah menjadi "Chief Military Observer United Nation Peace Forces" (UNPF) di Bosnia-Herzegovina pada tahun 1995-1996.
Ketika SBY menahan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh patut juga diapresiasi. Awalnya GAM ingin merdeka, tetapi SBY berhasil meredamnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah meminta Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) membantu melacak dan mencari keberadaan dokumen otentik Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) asli yang sampai sekarang belum ditemukan.
Komentar
Posting Komentar