Bulan September, Mengingat Kenangan Hari Lahir di KBRI Baghdad, Irak
Bulan September, Mengingat Kenangan Hari Lahir di KBRI, Baghdad, Irak
Peristiwa ini terjadi pada 22 September 2014, hari lahir ke-59, ketika saya ke Irak untuk kedua kalinya. Sekarang, 22 September 2022, usia saya sudah 67 tahun.
Inilah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baghdad, ibukota Irak. Saya hanya ingin menekankan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang tiada henti. Di ruang KBRI inilah saya menginap sebagai seorang tamu Duta Besar Indonesia untuk Irak. Iya, pada waktu itu tepat tanggal 22 September 2014 (hari lahir ke-59), saya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Allah SWT, karena diizinkan mengunjungi Irak untuk kedua kalinya.
Bandara Baghdad, ibu kota Irak itu sudah mendekat. Gemuruh pesawat Etihad Airways, 15 September 2014 mengantar saya mendekati KBRI di Irak yang sudah lama menunggu. Tak terasa, rasa lelah yang saya lalui melalui jalur Jakarta, Abu Dhabi, Baghdad (berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 24.00/malam WIB) tanggal 14 September 2014 itu terobati juga.
Setelah semuanya membantu mengurus beberapa surat-surat, saya pun berangkat bersama rombongan untuk langsung menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Baghdad. Di sana sudah menunggu Duta Besar RI untuk Irak, Safzen Noerdin, Letjen/TNI (Mar/Purn).
Udara kota Baghdad sangat panas ketika itu. Perjalanan ini membuat kenangan tersendiri bagi saya. Sekaligus suasana ini membuat saya menerawang bertemu Menteri Perindustrian dan Perlogaman Irak, Amir al-Saadi (masih keluarga Besar Presiden Irak Saddam Hussein pada akhir Desember 1992), juga ke Irak.
Suasana sudah tentu berbeda. Dulu saya diundang oleh Kementerian Penerangan Irak, semasa Saddam Hussein berkuasa. Sekarang diundang Kedutaan Besar Indonesia di Baghdad, setelah Saddam dihukum gantung. Tujuan tetap sama, melihat perkembangan Irak dari dekat.
Tak banyak yang saya harus ceritakan untuk kunjungan kedua ke Baghdad. Yang jelas Bandara Baghdad sudah dapat digunakan. Ini tentu berbeda ketika saya ke Baghdad di bulan Desember, tahun 1992. Saya tidak menginjakkan kaki langsung di Baghdad. Tetapi waktu itu saya lebih dulu ke Jordania, karena Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melarang terbang dari dan ke Irak bagi negara mana pun, termasuk Indonesia.
PBB waktu itu telah menerapkan kawasan larangan terbang Paralel 36 derajat sebelah utara dan Paralel 32 derajat sebelah selatan. Oleh karena itu, saya pada bulan Desember 1992 itu tidak langsung terbang ke Baghdad, Irak, tetapi terlebih dahulu mendarat di Bandara Jordania.
Dari Jordania, saya naik darat ke Baghdad. Boleh dikatan, waktu itu, Jordania, jalan satu-satunya menuju Baghdad.
Tahun 1992 itu Presiden Saddam Hussein masih berkuasa. Selain PBB menerapkan kawasan larangan terbang, persoalan mendasar Irak waktu itu adalah mengenai embargo PBB yang diterapkan berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No.661 yang dikeluarkan pada tanggal 6 Agustus 1990, tentang embargo perdagangan.
Dikeluarkannya Resolusi tersebut sangat dirasakan oleh rakyat Irak. Lebih-lebih setelah adanya pemberlakuan Zona Larangan Terbang sepanjang garis paralel 36 di Utara dan Selatan Irak. Pemberlakuan Zona Larangan Terbang tersebut membuat semua orang, siapa saja, baik pejabat tinggi maupun rendah, bila ingin berkunjung ke Irak harus melalui jalan darat melalui jalan satu-satunya dari Jordania.
Jarak yang dicapai dari Jordania ke Irak melalui jalan darat, secara total 885 kilometer yang ditempuh lebih kurang sekitar 13 jam. Itu dulu.
Sekarang, seluruh penumpang bisa melewati Bandara Baghdad. Ada sesuatu yang terasa ketika saya tiba di Bandara Baghdad. Suasana tidak begitu ramai, tidak ada lalu lalang pesawat udara di atas Bandara Baghdad. Muncul pertanyaan saya. Apakah saya datang pada waktu yang tidak tepat, di mana Pasukan Udara Amerika Serikar dan Sekutunya sedang menggunakan udara untuk menyerang kekuatan-kekuataan pasukan ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) yaitu gabungan negara Islam Irak dengan Front Al-Nusra yang berada di sektor Timur Suriah dan Barat Irak.
Duta Besar berkomentar kepada saya, Untung Pak Dasman pulang hari ini. Kalau besok nggak tahu, apakah ada pesawat atau tidak karena jalurnya dipakai untuk menyerang ISIS.
Kelompok ISIS ini memang meresahkan di Irak atau Suriah. Pengeboman-pengeboman, penyerangan ke kantor-kantor polisi dan militer Irak dan lain-lain. Sudah banyak korban yang jatuh, kebanyakan warga tak berdosa, baik di Irak atau Suriah. Bahkan baru-baru ini, di Sydney, Australia, negara yang berdekatan dengan Indonesia, kena getahnya. Front Al-Nusra dikabarkan bertanggung jawab atas penyanderaan yang menimbulkan korban itu.
Al-Nuri yang berbasis di Suriah merupakan organisasi yang mengusung ideologi Al Qaeda dan bertujuan merobohkan rezim Presiden Suriah, Assad.
Dalam suasana seperti inilah saya berangkat ke Baghdad. Penjagaan keamanan di Bagdad sangat ketat. Saya yang memakai mobil Kedutaan Besar Indonesia di Irak tidak luput dari pemeriksaan. Untuk menuju Kedubes RI saja, ada sebanyak tujuh kali pemeriksaan. Meski pemeriksaan boleh dikata super ketat, bom bom mobil tetap saja sering terjadi yang menimbulkan banyak korban.
Masjid Al-Kufa, di Kufa,Irak adalah perjalanan berkesan selama di Irak, September 2014, tepatnya hari Sabtu,20 September 2014. Sebuah masjid yang dibangun Abad VII yang luasnya 11.000 persegi (sewaktu saya ke sana terus dibangun. Sudah tentu luasnya sekarang bertambah). Kufah atau Kufah merupakan sebuah kota di Irak. Jaraknya 170 km di selatan Bagdad.
Sudah dapat dipastikan memasuki Masjid itu saya sangat kagum. Masjid itu terawat dengan baik, bersih dan berlapiskan cahaya lampu. Di samping itu, saya bersama beberapa staf Kedutaan Besar RI di Baghdad, diajak berkeliling dan juga diperlihatkan di mana Sayidina Ali ra, sahabat Nabi Muhammad SAW berkantor di sebuah ruangan selama di sana. Staf menyarankan saya melakukan sholat di sebuah tempat yang dianggap dekat makam sahabat Rasulullah tersebut.
Buat saya, masalah shalat atau berdoa sebagai seorang Sunni tidak ada masalah. Memang ada perbedaan cara shalat antara Sunni dan Si"ah dan sepertinya tidak perlu ditulis. Pun ketika ada yang mengatakan bagi Si'ah inilah tempat suci sebagaimana Masjidil Haram di Mekkah tempat suci ummat Islam Sunni. Saya berdoa dan shalat menurut ajaran yang saya anut sebagai seorang Sunni. Saya shalat karena diminta oleh staf Kedutaan Besar RI di Baghdad. Perjalanan saya hampir mirip dengan naik haji seperti di Mekkah, itu pun tidak mempengaruhi saya. InsyaAllah, saya merencanakan naik haji ke Mekkah. Saya menghormati aliran di mana saya berada, tetapi tetap sebagaimana keyakinan saya sebagai seorang Sunni.
Pergi ke makam sahabat Rasulullah (Ali ra) itu sebagai seorang manusia, pasti sedih. Beliau meninggal dibunuh. Sama halnnya dengan Khalifah sebelumnya, Usman. Saya menitikan air mata, ketika pemandu bercerita tentang sahabat Nabi itu. Hanya yang menjadi perbedaan antara Sunni dan Si'ah adalah bahwa sebagai khalifah, pengganti Nabi Muhammad SAW itu dipilih atau dipilih secara otomatis. Di sinilah perbedaan mendasar antara Sunni dan Si'ah dalam hal siapa pengganti Rasulullah SAW. Si'ah berpendapat bahwa pengganti Rasulullah adalah Ali ra, (otomatis) karena pengganti Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Usman yang dipilih secara musyawarah (Sunni). Banyak hal lain yang tidak perlu ditulis dalam perjalanan ini.
Cerita Masjid Al-Kufah di Kufah, Irak terus menjadi inspirasi ketika saya kembali melihat denah masjid tersebut. Ada beberapa nabi yang singgah di bangunan masjid terluas, termegah dan tertua itu , juga beberapa Syuhada. Ketika saya ke sana, September 2014 lalu, memang saya tidak ingin ada perbedaan-perbedaan pendapat, apalagi saya seorang Sunni berkunjung ke Masjid Si’ah.
Yang jelas, Ali r.a sama-sama kita ketahui sebagai sepupu sekaligus menantu, suami dari anak Nabi Muhammad SAW, Fatimah. Sunni tidak percaya, beliau adalah khalifah ke empat setelah Abu Bakarr.a, Umar ra dan Usman ra, meski terjadi perbedaan antara Sunni dan Si’ah di mana Si’ah akibatbahwa Ali ra lah yang berhak atas posisi Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat. Bukannya, Abu Bakar ra, Umar,ra dan Usman ra Menurut Si’ah tidak perlu Ali ra dipilih karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW. Hendaknya, beliau ditunjuk saja mengganti Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, Sunni tidak boleh dengankematian Ali yang dibunuh, tetapi tidak boleh berlebihan.
Nasib Ali ra sejak memindahkan kantornya di Kufah terasa lama-lama banyak juga yang tidak disukai. Belau dibunuh. Yang bisa kita saksikan di tempat Masjid seluas itu, adalah juga ruang kerja. Jika ditemukan di mana makamnya, banyak silang pendapa. Tetapi banyak yang mengatakan, beliau dimakamkan juga di lingkungan Masjid Al-Kufah tersebut.
Kufah dan Najaf , adalah dua buah kota di Irak. Kufah terletak 10 km di timur laut Najaf , 160 km di selatan Baghdad , diriwayatkan dulunya tempat Nabi Nuh as, keluarga, dan kaumnya hidup sekaligus tempat mereka bermukim. Najaf dalam bahasa Arab artinya daerah tinggian atau gunung, jaraknya dari Bagdad sekitar 170 km.
Selain tempat ibadah Nabi Nuh as, adalah juga tempat ibadah Nabi Ibrahim as. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, Imam Shadiq masuk Masjid dari pintu al-fil (salah satu pintu masjid yang populer dengan sebutan ini), dan beliau menuju ke arah kiri dan berdiri di samping tiang ke empat kemudian shalat. Perawi mengatakan: saya bertanya kepadanya apakah makam Nabi Ibrahim a.s di sini? Imam menjawab: “Iya.” Imam Shadiq berkata kepada sebagian sahabatnya:”…shalatlah di makam Nabi Ibrahim as yang terletak di tiang ke lima.”
Kembali ke cerita Nabi Nuh as, Hadis dari Abu Abdillah ra beliau meriwayatkan sabda Nabi Muhammad SAW, Najaf era Nabi Nuh as adalah sebuah gunung berapi, gunung ini menjadi tujuan anak Nuh yang bernama Kan’an untuk mencari perlindungan dari banjir besar sewaktu Allah SWT memohon doa hambanya yang sabar dan shaleh Nuh sebagai untuk membinasakan kaumnya yang setiap harinya menyembah patung dan lukisan-lukisan yang dibuat untuk menghibur kaum yang ditinggal pergi oleh keluarganya yang beriman karena telah cukup ajalnya. Beberapa waktu dari banjir bah, Najaf ( gunung tiada di permukaan bumi yang lebih besar darinya , kala itu) meletus, Allah berkata Wahai gunung , apakah dia (Kan’an) dapat mencari perlindunganmu dari siksa-Ku ?
Gunung tersebut menjadi murka, menghancurkan tubuh dan akarnya, potongannya berjatuhan ke negeri Syam, debu halusnya bertebaran di permukaan bumi, dan sisanya menjadi lautan, kemudian laut tersebut berasal dari Najaf oleh penduduk sekitarnya. Juga pada malam mikraj, Nabi Muhammad SAW melewati masjid ini dan meminta izin untuk salat dua rakaat di dalamnya.
Setelah dari Masjid Al-Kufah saya dan staf Kedutaan Besar Indonesia di Irak menginap menginap di kota itu dan besoknya menuju Padang Karbala, tempat di mana anaknya Ali ra, Hussein, dibunuh di Padang Karbala. Lehernya dipotong musuh. Beliau mati syahid.
Di tengah perjalanan menuju Bagdad, kami singgah ke Makam Nabi Ayub saat Berbicara tentang Nabi Ayub, membuka lagi pikiran kita kepada nabi yang sabar menerima cobaan dari Allah SWT, yaitu ditimpa cobaan penyakit.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya' ayat 83-84Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya:
(’Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.' Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada. Anda dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”
Juga di Al-Qur'an Surah Shad ayat 41 hingga 44: “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: 'Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan' (Allah berfirman):
'Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami menambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang memiliki fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu sumpah sumpah. Sesungguhnya Kami mendapati dia (Ayuh) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Tuhannya).”
Komentar
Posting Komentar