NATSIR, TOKOH YANG PATUT DITELADANI DI MASA KINI

MENYAMBUT PERINGATAN 114 TAHUN  KELAHIRAN  MOHAMMAD NATSIR. LAHIR, 17 JULI 1908 DAN WAFAT 6 FEBRUARI 1993, SAYA MENGINGAT TULISAN SAYA DI KOMPASIANA, BERJUDUL :

"Mohammad Natsir dan NKRI,"
26 Juni 2018   10:19 Diperbarui: 26 Juni 2018   10:19 416 0 0

Menarik mengikuti acara mengupas tokoh sejarah Mohammad Natsir di MetroTV tadi malam, tanggal 25 Juni 2018, pukul 22.30 Waktu Indonesia Barat (WIB).   Mantan Menteri Penerangan RI dan Perdana Menteri Republik Indonesia itu didiskusukan oleh Sejarawan Taufik Abdullah dan anak kandung beliau. 

Diskusi ini menarik, karena Natsir yang berpikiran cemerlang dan menguasai beberapa bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Arab itu, adalah tokoh yang mengembalikan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).   

Itu terjadi pada tanggal 3 April 1950, ketika Natsir sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Parlemen RIS (Senat dan DPR) mengajukan "Mosi Integral Natsir," dalam Sidang Pleno. Mosi itu berdampak kembalinya Indonesia ke bentuk NKRI.

Sebelumnya RIS berdiri tanggal 14 Desember 1949 ditandai dengan penandatanganan  Piagam Konstitusi RIS di kediaman Bung Karno, Jl. Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl.Proklamasi). 

Mosi Integral Natsir mampu mempengaruhi kelompok yang menginginkan Indonesia sebagai RIS, berubah menjadi ingin bergabung dengan NKRI. Pembubaran RIS dan penggabungan dengan RI, awalnya memang dimungkinkan berdasarkan Pasal 43 Konstusi RIS. Dalam pasal itu disebutkan, bahwa dalam penyelesaian susunan federal Republik Indonesia Serikat, maka berlakulah azas pedoman, bahwa kehendak rakyat di daerah-daerah bersangkutan yang dinyatakan dengan merdeka..."

Itulah sumbangan terbesar Natsir bagi Republik Indonesia. Meski ia telah tiada, meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993, diusia 84 tahun (Lahir di Alahan Panjang, Lembah Gunanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908), tetapi meski diangkat sebagai Pahlawan Nasional, 10 November 2008, pengangkatan ini sebelumnya memunculkan kontroversi, karena Natsir pernah bergabung dengan Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) dan anggota Petisi 50.

Berdasarkan pengangkatan sebagai Pahlawan Nasional, saya berpendapat bahwa pemerintah berpikiran, PRRI itu bukanlah pemberontak. PRRI itu mirip Petisi 50, yang mengedepankan bahwa mereka sebagai warga negara, ingin mengoreksi pemerintahan. 

Buktinya pemimpin PRRI Ahmad Husein, akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kuranji, Padang, Sumatera Barat. Ayahnya Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo diangkat sebagai menteri di masa Presiden Soeharto. 

Ditambah dengan hasil wawancara saya di Jakarta dengan Ahmad Husein, bahwa ia mendirikan PRRI sebagai koreksi terhadap pemerintahan Soekarno, karena pusat lebih diperhatikan di Pusat dari pada di daerah. "Saya bukan pemberontak, " ujarnya kepada saya di Jakarta.

Partai Masyumi identik dengan Muhammad Natsir. Itulah kendaraan politik yang digunakannya membangun negara ini. Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia adalah salah satu partai politik yang bernafaskan Islam. 
Masyumi pada mulanya dibentuk tahun 1943 di bawah pendudukan Jepang. Pada waktu ini Masyumi belum berbentuk partai, hanya sebuah organisasi. Selanjutnya Masyumi dibentuk kembali pada tanggal 7 November 1945. Pada pemilihan umum pertama tahun 1955, Masyumi keluar sebagai partai terbesar kedua dalam pengumpulan suara.

Sejak Natsir mengetuai Masyumi pada tahun 1952, partai ini sering mengkritisi langkah-langkah militer yang ditempuh pemerintah RI. Konflik antara Masyumi dan pemerintah semakin terangkat ke permukaan, kali ini berhadapan langsung dengan Presiden Soekarno, karena Masyumi dengan terang-terangan menentang Dekrit 5 Juli 1959 yang memberlakukan kembali UUD 1945 dan penerapan Demokrasi Terpimpin oleh Presiden Soekarno. Konflik tidak terhindarkan. Presiden Soekarno sendiri membubarkan Partai Masyumi berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no 200/1960, tentang Pembubaran Masyumi dan diumumkan tepat pada tanggal 17 Agustus 1960.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni Bersama Wartawan Pelita dan Sripo

Mendiskusikan Profil Mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah

Masih Berbicara Islam Sunni dan Syiah di Irak