KELAS MENULIS DARING (KMD)

Adalah Muhammad Subhan yang bermukim di Sumatera Barat yang menggagas Kelas Menulis Daring (KMD). Pesertanya menyebar di seluruh Indonesia. Gagasan itu belum begitu lama, tetapi sudah banyak yang tertarik mengikuti kelas ini. 

Untuk mereka yang ingin belajar menulis, tidak dibatasi usia. Mereka diarahkan bisa nantinya menulis cerpen,  novel, puisi, sajak, yang kesemuanya sudah tentu berkaitan dengan dunia tulis menulis. Kelas Menulis Daring (KMD) elipsis sewaktu saya dipercaya menjadi instruktur tamu sudah memasuki sesi kelas ke-124.
Ketika saya didaulat menjadi instruktur tamu pada, Senin, 11 April 2022, saya memulai bahasan saya dengan mengutip pernyataan Pramoedya Ananta Toer :

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi” Semua perlu proses. Ketika tulisanmu yang awalnya dianggap jelek dan tak bermutu, ingat semua itu adalah proses untuk terus belajar.

Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna

Pramoedya Ananta Toer secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing.
Pramoedya Ananta Toer Lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Meninggal pada 30 April 2006 (usia 81) di Jakarta.

Saya masih ingat pada hari Minggu pagi, 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer, salah seorang pujangga besar Indonesia itu menghela nafas terakhirnya pada pukul 08.55 WIB dan jenazah disemayamkan di kediamannya Jalan Multikarya II No.26, Utan Kayu Jakarta Timur.

Pram sebutan khasnya sehari-hari, lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia . Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Nama aslinya sebagaimana diungkapkan dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul “Cerita Dari Blora,” adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa “Mas” dari nama tersebut dan menggunakan “Toer.”

Mengangkat kembali masalah Pram ke permukaan bukan dikarenakan saya adalah alumnus SMA di Kabupaten Blora, tetapi lebih dikaitkan dengan  seorang penulis dan peneliti yang menetap di Amsterdam, Joss Wibisono di dalam Majalah Tempo edisi 7, 13 Oktober 2013 mengungkap kembali kenapa para Sastrawan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, di mana Novel Pram berjudul “Tetrologi Buru,” yang dinominasikan meraih Nobel Kesusastraan bisa gagal.

Dalam hal ini Joss Wibisono mengutip Benedict Anderson, Guru Besar Universitas Cornell di New York, Amerika serikat dalam artikelnya “The Unrewarded” (Yang Tak Teranugerahi) di “New Left Review 80, “edisi Maret-April 2013. “Kelemahan panitia Nobel Kesusastraan di Stockholm, Swedia,” ujar Ben Anderson adalah kunci utamanya.”Terabaikannya Asia Tenggara jelas merupakan kelemahan dan sekaligus titik buta panitia Nobel,” tegasnya.

Diakui Ben Anderson, para Sastrawan Asia memang pernah meraihnya, semasa Rabindranath Tagore dari India. Tetapi India pada tahun 1913 itu masih jajahan Inggris. Belum sepenuhnya mewakili India. Permasalahan penterjemahan juga menjadi kendala utama. Terjemahan Novel Pram, “Tetrologi Buru,” ke dalam bahasa Inggris, roh kesusatraannya hilang begitu saja. Boleh dikatakan terjemahannya jelek.
Kesimpulannya bangsa Indonesia yang juga merupakan negara jajahan Belanda, tidak bernasib sama dengan negara-negara jajahan lain. Negara Prancis, Inggris dan Spanyol telah melakukan lobi untuk sastrawan negara bekas jajahan mereka.Tetapi Belanda?

Tetapi perkembangan di Indonesia ada yang mengkaitkan bahwa pemerintah Indonesia tidak bersungguh-sungguh mendukung Novel Pram dikarenakan masa lalu Pram yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia sehingga dibuang ke Pulau Buru. Memang Novel “Tetra Buru”, atau “Tetra Pulau Buru,” atau “Tetralogi Bumi Manusia,” adalah nama dari empat Novel karya Pram yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988. Novel ini pernah dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa. 

Menurut saya, sebaiknya ketika Novel Pram dinominasi, pemerintah mendukung hal tersebut. Saya berkesimpulan, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Novel Pram gagal meraih Nobel Kesusatraan, baik dari jeleknya penterjemahan sebagaimana diungkap Ben Anderson, kemauan negara penjajah Belanda melobi Komite Nobel hingga dukungan pemerintah Indonesia sendiri terhadap Novel Pram.
Saya melanjutkan pembicaraan saya dalam sesi diskusi daring tersebut. Bagaimana seseorang jika ingin menulis, khususnya menulis buku biogragi, ia terlebih dulu harus mendapat kepercayaan dari tokoh yang akan ditulisnya. Saya juga menjelaskan, bagaimana pun  5 W + 1 H harus ada di setiap tulisan.  Who = Siapa, What = Apa, Why = Kenapa, Where = Dimana, When = Kapan dan How = Bagaimana.
Selanjutnya saya sedikit menjelaskan mengenai cara menulis berita di masa perang. Perjalanan saya ke Irak dua kali, Desember 1992 dan September 2014, itu semua di masa perang. Tahun 2014 ketika Duta Besar Indonesia untuk Irak, Letjen TNI Marinir Safzen Noerdin, bertanya kepada saya, " Apa Pak Dasman lama di Irak ?." Saya jawab, " Tidak Pak."

Ya, dalam pikiran saya bagaimana mungkin saya lama di Irak, karena suasananya masih rawan. Bom bunuh diri sering meledak. Gerilyawan Negara Islam di Irak masih sering melakukan penculikan dan meledakan bom bunuh diri.
Menutup pembicaraan, saya mengharapkan para peserta harus berani memulai menulis. Tulislah.  

https://g.co/kgs/Lj7KAZ

https://peoplepill.com/people/dasman-djamaluddin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni Bersama Wartawan Pelita dan Sripo

Mendiskusikan Profil Mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah

Masih Berbicara Islam Sunni dan Syiah di Irak