Berharap B.M.Diah dan Herawati Diah Jadi Pahlawan Nasional




    

Setiap menjelang Hari Pahlawan tanggal 10 November sudah tentu setiap provinsi di Indonesia telah mengusulkan nama yang bakal ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Nanti tergantung tim penilai dan melalui Menteri Sosial RI mengajukan kepada Presiden RI, untuk dipilih sebagai Pahlawan Nasional tahun 2021.

Tiga tahun yang lalu, berkaitan dengan Pahlawan Nasional ini, pada tanggal 21 Mei 2018, di ruangan Yayasan Pustaka Obor Indonesia yang terletak di Jalan Plaju, Jakarta dipenuhi oleh para undangan. Waktu itu sedang diselenggarakan bedah buku: "Catatan BM Diah, Peran 'Pivotal' Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-'45." Tema yang diusung waktu itu, "Idealisme dan Pragmatisme Pemuda Indonesia Masa Kini."

Berbicara tentang pemuda Indonesia adalah Sejarawan Asvi Warman Adam dan Bonnie Triyana. Sedangkan sebagai moderator saya sendiri, Dasman Djamaluddin, sekaligus penyunting dari buku tersebut. 

Sudah tentu peran pemuda BMDiah yang menjadi Ketua Angkatan Baru Indonesia menjadi fokus yang dibahas. Buat saya, diskusi ini lebih berisi karena Sejarawan Asvi Warman Adam menegaskan bahwa BMDiah dan Herawati Diah patut menjadi Pahlawan Nasional.




B.M. Diah ini, kepanjangan namanya adalah Burhanudin Mohamad (B.M.) Diah. Ia putra Aceh, lahir di Kotaraja, Aceh, sekarang bernama Banda Aceh pada 7 April 1917 dan meninggal di Jakarta pada 10 Juni 1996 pada usia 79 tahun.

Sementara Herawati Diah, istri B.M. Diah bernama lengkap Siti Latifah Herawati Diah, lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 3 April 1917 dan meninggal dunia di Jakarta pada hari Minggu, 30 September 2016 di usia 99 tahun.

Makam kedua tokoh pers ini keindahan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sudah tentu tepat jika proposal Sejarawan Asvi Warman Adam agar B.M.Diah dan Herawati Diah agar menjadi Pahlawan Nasional diterima pemerintah Indonesia.
B.M.Diah dan Herawati Diah adalah tokoh pers. Pada 1 Oktober 1945, suami istri ini mendirikan sebuah koran perjuangan koran "Merdeka." Koran ini bertambah lama berkembang. Kemudian bertambahlah anak perusahaan. perusahaan dengan terbitnya Majalah "Topik," Mingguan "Merdeka," koran pertama berbahasa Inggris di Indonesia, "Indonesian Observer," dan Majalah "Keluarga."


Berikutnya para mantan wartawan Grup Merdeka, pada 2009 menerbitkan sebuah buku berjudul: "Aku Wartawan Merdeka." Tahun 2015, Museum Perumusan Naskah Proklamasi membuat buku komik "B.M. Diah Wartawan Penyebar Semangat Kemerdekaan." Narasumber dari saya yang pada tahun 1992 menulis buku "Butir-Butir Padi B.M. Diah (Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman), Pustaka Merdeka, 1992. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni Bersama Wartawan Pelita dan Sripo

Mendiskusikan Profil Mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah

Masih Berbicara Islam Sunni dan Syiah di Irak