Selamat Jalan Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.Phil., M.A., CBE. telah meninggalkan kita semua pada 18 September 2022 di Serdang Hispital, Malaysia. Ia ke Malaysia dalam rangka untuk menghadiri pertemuan ilmiah. Menurut rencana ia akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Timur, Indonesia.

Semua orang sudah tentu mengenal, siapa Azyumardi Azra. Tulisan dan buku-bukunya sudah banya dibaca, karena, ia suka menulis. Ia juga adalah seorang akademisi dan cendekiawan muslim Indonesia. Ia menjabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta antara 1998 hingga 2006. Lahir, 4 Maret 1955.
Jelang 17 Agustus 2020, tepatnya 14 Agustus 2020, saya menulis di Koran Pelita dengan judul Harapan dan Kecemasan Azyumardi Azra Jelang 17 Agustus 2020.

Saya mengutip tulisan Prof. Dr. Azyumardi Azra, di harian Kompas, Kamis, 13 Agustus 2020 dan mengatakan, sangatlah menarik. Klipingan tulisannya itu, pada hari itu juga dikirim Prof. Azyumardi Azra kepada saya melalui WA.

Setelah membaca tulisan Azyumardi Azra, saya memperoleh gambaran tentang 75 tahun Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 2020 yang ketika itu, tinggal beberapa hari lagi. Ada satu pesan kehati-hatian bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan ke masa depan setelah melihat akibat yang ditimbulkan wabah Covid-19.

Dalam hal mengatasi penyebaran Covid-19 ini, diakui Azyumardi Azra, tidak hanya bangsa Indonesia saja yang sedang berada di antara harapan dan kecemasan, tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia.

Yang sudah pasti, tidak seorang pun bisa memastikan kapan berakhirnya wabah corona yang sudah merenggut nyawa manusia setiap harinya di dunia ini.
Meskipun demikian, tulisan Azyumardi Azra juga memberi rasa optimis di tengah Covid-19. Ia memprediksi Indonesia ketika merayakan Kemerdekaan ke-100 tahun 2045. Juga memberikan arahan di masa sekarang ini degan konsep pemikiran “rem dan gas.” Kapan bangsa ini harus mengerem dan kapan menekan gas di saat Covid-19 belum jelas kapan berakhirnya.

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE lahir di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Apa yang kita ketahui mengenai Suku Minang?

Suku Minangkabau

Membicarakan tentang Azyumardi Azra sudah tentu tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan suku Minangkabau.

Di awal kemerdekaan Republik Indonesia (RI), banyak sekali suku Minangkabau yang berperan di berbagai bidang. Misalnya Mohammad Hatta yang sering dipanggil Bung Hatta, yang dikenal sebagai tokoh proklamator dan Pahlawan Nasional. Peristiwa yang tidak dapat dilupakan, bagaimana Bung Karno menolak permintaan tokoh pemuda membacakan Proklamasi tanpa kehadiran Bung Hatta.

Tidak, saya tidak akan membacakan Proklamasi sebelum Hatta datang, ujar Bung Karno. 

Bung Hatta memang agak terlambat datang ke rumah Bung Karno, di Pegangsaan Timur 56 Jakarta (Sekarang Jl1. Proklamasi). Setelah Bung Hatta hadir, kemudian dibacakan teks Proklamasi yang malamnya telah dirumuskan di rumah Laksamana Muda Jepang Maeda. Sekarang, rumah Maeda dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat. 

Di bidang jurnalis yang ikut pula melakukan pengembangan bahasa, antara lain, Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus. Di samping itu, Abdul Rivai yang dijuluki Perintis Pers Indonesia, Rohana Kudus yang menerbitkan “Sunting Melayu”, menjadi wartawati dan pemilik koran pertama di Indonesia.

Tuanku Abdul Rahman, salah seorang Tokoh Minang yang berpengaruh di Malaysia. Selain itu, di bidang politik, tokoh asal Minang, banyak yang menjadi motor perjuangan. Selain Bung Hatta dan Sjahrir, sebut saja, Tan Malaka yang terpilih menjadi wakil komunis Se-Asia Tenggara. Muhammad Yamin, pelopor Sumpah Pemuda, Natsir, Agus Salim, Jahja Datoek Kajo dan Abdoel Moeis, politisi yang paling vokal di dewan “voksraad” bentukan Belanda.

Yang lainnya menjadi pimpinan parlemen, Chairul Saleh dan puluhan lain jadi menteri, antaranya, Azwar Anas, Fahmi Idris, Emil Salim. Bahkan, masa Demokrasi Liberal, parlemen didominasi politisi Minang. Pimpinan dan pendiri partai oleh politisi Minang, sebut saja PARI dan Murba yang didirikan oleh Tan Malaka, Partai Sosialis Indonesia oleh Sutan Sjahrir, PNI Baru oleh Muhammad Hatta.

Selanjutnya, pengusaha sukses juga banyak berasal dari Minang, seperti Abdul Latief, Basrizal Koto (pemilik peternakan sapi terbesar di Asia Tenggara), Hasyim Ning (pengusaha perakitan mobil pertama di Indonesia) dan tuanku Tan Sri Abdullah (pemilik Melewar Corporation Malaysia). Orang Minang juga sukses di jagad hiburan, baik sutradara, pemeran dan penyanyi.

Sutradara, di antaranya Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani dan Arizal. Film-film karya sineas Minang, seperti “Lewat Djam Malam”, “Gita Cinta dari SMA”, “Naga Bonar”, “Pintar Pintar Bodoh” dan “Maju Kena Mundur Kena”, menjadi film terbaik dan banyak digemari penonton.

Pemeran dan penyanyi Minang yang terkenal, seperti Ade Irawan, Dorce Gamalama, Eva Arnaz, Nirina Zubir, Titi Sjuman, Jajang C Noer, Soekarno M. Noor, dan putranya Rano karno telah menghasilkan produksi serial terlaris seperti si “Doel Anak Sekolahan. “ Di luar negeri, konstribusi orang Minang juga dikenal.

Sejarawan dari Minangkabau yaitu Alfian dan Asvi Warman Adam. Di Kepolisian yang pernah menjadi Kepala Kepolisian Negara RI (Kapolri) yaitu Awaloedin Djamin.Di bidang militer, yaitu Letjen (Purn) Rais Abin. Di usianya menuju 92, beliau masih dipercaya menjadi Ketua Umum Legiun Veteran RI (LVRI). Ketika masih berpangkat Mayor Jenderal, Rais Abin dipercaya menjadi Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah.

Di Malaysia dan Singapura, antara lain Tuanku Abdul Rahman (Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia), Yusof bin Ishaq (presiden pertama Singapura), Zubir Said (Komposer Lagu Kebangsaan Singapura, “Majulah Singapura”), Sheikh Muszaphar Shukor (Astronot pertama Malaysia), Tahir Jalaluddin Al-Azhari dan Adnan bin Saidi. Di negeri Belanda, Roestam Effendi menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah duduk di parlemen Belanda.

Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, orang non Arab yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram, Mekah. Keberhasilan yang disebutkan, karena orang Minangkabau terkenal denga pekerja keras. Baik dalam pemikiran maupun bidang lainnya. Itu juga erat dengan kebiasaan orang Padang (Minang) yang gemar merantau, sehingga semangat untuk merubah nasib sangat tinggi. Kita hanya berharap untuk ke depan, banyak putera puteri Minangkabau berperan di berbagai bidang, baik nasional maupun internasional. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni Bersama Wartawan Pelita dan Sripo

ALI ALATAS BENAR, BLAIR MINTA MAAF

Mendiskusikan Profil Mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah