Selamat Jalan Sahabatku di Grup Merdeka Agus Salim Suhana


Innalillahi wa inna ilaihi rojiu'n.

Telah berpulang ke rahmatullah H.Agus Salim Suhana Bin Encep Suhana di usia 70 tahun pada hari Minggu, 24 Juli 2022, pukul  21.57 WIB. Ia meninggal dikediaman di Bekasi.  Almarhum kemudian  dimakamkan hari Senin, 25 Juli 2022 di kampung halamannya, Garut (Jawa Barat).

Saya pribadi sudah lama tidak bertemu dengan sahabat saya yang dulunya sama-sama bekerja di Group Merdeka, Jalan A.M.Sangaji 11 Jakarta Pusat itu.

Saya terakhir bertemu Agus Salim Suhana di
Situ Gintung, Ciputat, di hari Minggu, 24 April 2016. Waktu itu udara sangat cerah. Sekitar pukul 10 pagi, saya melangkahkan kaki menuju ke tempat wisata tersebut.

Kebetulan, ketika akan menuju ke sana, berpapasan dengan mantan wartawan Harian Merdeka Sangaji 11 Jakarta Pusat, Agus Salim Suhana itu. Beliau adalah mantan Pemimpin Redaksi Harian Merdeka yang ikut dipecat Bapak Burhanudin Muhamad Diah (B.M. Diah) waktu koran perjuangan tersebut masih eksis mewarnai persuratkabaran di Indonesia, karena koran perjuangan tersebut telah lahir pada 1 Oktober 1945.
Almarhum Agus Salim Suhana terlihat paling kiri. Saya terlihat paling kanan.
Tak terasa sambil berjalan, kami sampai juga di tempat tujuan ke tempat saung milik wartawan Merdeka juga, Anang. Memang benar, di sanalah tujuan kami dalam rangka menghadiri Reuni Awak Kelompok Merdeka yang berlangsung hari itu. Kami diberi tahu, Pak Harmoko sudah hadir. Sudah tentu kami kaget, karena mantan Menteri Penerangan RI yang juga pernah menjadi wartawan Merdeka itu telah hadir lebih dulu. Apalagi dibanding usia, sudah tentu lebih muda dari kami, yaitu waktu itu beliau sudah berusia 77 tahun. Sementara kami yang hadir di sana boleh dibilang ada yang lebih muda dari itu, tetapi tidak muda sekali, karena kami juga sudah berusia lanjut juga.
Kami terpaku dan sangat gembira bisa bersalaman dan berbincang-bincang dengan Pak Harmoko, tokoh pers yang sangat dikenal di masa-masa Orde Presiden Soeharto. Saya bercerita panjang lebar dengan Pak Harmoko yang duduk dengan santainya di kursi roda. Saya mencoba mengingatkan beliau akan peristiwa setelah buku yang saya tulis:”Butir-Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman” (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992) selesai diterbitkan. Rupanya Pak Diah yang pernah pula lebih dulu menjadi Menteri Penerangan RI mendahalui anak muridnya Harmoko berpesan kepada saya, bahwa Pak Harmoko ingin menjumpai saya.

“Man,” ujar Pak Diah kepada saya. “Moko (Harmoko) ingin bertemu Anda.” Waktu itu, entah apa sebabnya, saya tidak pernah menemui Pak Harmoko. Barulah, yang untuk pertama kalinya selama ini, saya bertemu Pak Harmoko di acara Reuni Awak Pers Grup Merdeka Jalan Sangaji 11 Jakarta Pusat. Saya ceritakan hal tersebut kepada Pak Harmoko, pada hari Minggu, 24 April 2016 tersebut. Pak Harmoko membalasnya dengan senyuman. Selama percakapan, meski dengan nada pelan, di usia 77 tahun tersebut, daya ingat Pak Harmoko masih tajam. Sangatlah wajar jika di usia itu, ia bicara pelan-pelan di kursi rodanya. Bahkan Pak Harmoko sangat suka lagu-lagu kenangan masa lalu. Dua kali beliau memanggil saya agar dipesankan dua buah lagu kesukaannya. Ia senang dan terhibur saat mendengarkan. Pak Harmoko sekarang, juga telah meninggal dunia.

Grup Merdeka, mengapa disebut demikian? Di Jalan AM Sangaji 11 Jakarta Pusat itulah, sejak Harian Merdeka terbit 1 Oktober 1945, surat kabar yang terbit hanya satu setengah bulan setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, terus berkembang mengembangkan sayapnya yang akhirnya menjadi sebuah grup, Grup Merdeka. Koran Merdeka dengan kekhasannya: kop warna merah darah, adalah koran pemberani di masanya. Lebih dari itu, koran tersebut memiliki garis politik yang jelas, sehingga lebih lama bertahan.Setelah Harian Merdeka lahir, lahir pula Minggu Merdeka, koran berbahasa Inggeris pertama di Indonesia, Indonesian Observer, Majalah Keluarga dan Majalah Berita TOPIK sehingga membentuk grup bernama Grup Merdeka.

Setelah B.M. Diah menikah dengan Ibu Herawati, isteri B.M. Diah ini selalu mendampingi suaminya di Grup Merdeka.Tanggal, 3 April 2016 lalu, Ibu Herawati Diah bersyukur kepada Allah SWT, bahwa usianya sudah mencapai 99 tahun.
Tidak ada yang dapat saya katakan, ketika teman-teman yang pernah menjadi anak didik beliau di Jl.A.M. Sangaji 11 Jakarta, menyaksikan saat-saat kedatangan Ibu Herawati Diah di Gedung Perpustakaan MPR-RI, Kamis, 31 Maret 2016. Detik perdetik kursi roda Ibu Herawati didorong ke tempat acara peringatan 99 tahun beliau. Usia sepertinya tidak menjadi alasan Ibu Herawati tidak hadir. Bahkan senyuman di bibir seorang ibu atau guru bagi kami terus tersungging di kerumunan tamu-tamu undangan, sudah tentu di antara jajaran anak didik beliau di Grup Merdeka, Sangaji 11.

Kami memang sudah tua-tua juga. Saya sudah 60 tahun lebih. Ada juga teman-teman yang usianya lebih tua dari saya. Tetapi ada juga yang lebih muda, tetapi tidak berbeda jauh betul. Tetapi ingatan akan Ibu Herawati tidak pernah lupa dan kemudian atas ide kawan-kawan terekamlah kenangan tersebut di dalam sebuah bentuk buku berjudul: “99 Tahun Herawati Diah, Pejuang Pers Indonesia.”

Pesannya kepada wartawan agar berbahasa santun yang dibacakan anak kandungnya Nurman Diah di acara tersebut sebenarnya bukanlah hal asing buat diri Ibu Herawati, karena ia telah memulainya dari dirinya sendiri. Pun jika sedang marah, tidak nampak kalimat-kalimat yang dikeluarkannya bernada keras.

Senyuman Ibu Herawati tersebut terulang kembali ketika sebuah mobil memasuki Situ Gintung, Ciputat, Minggu, 24 April 2016. Kami bersama-sama membantu mengangkat dan mendorong kursi roda beliau. Kembali senyum tersebut tersungging di bibirnya yang ditujukan kepada kami, ketika usianya sudah 99 tahun. Terimakasih Ibu.

Pak Diah meninggal dunia pada 10 Juni 1996, saya tidak hadir di rumah Ibu Herawati. Saya hanya menulis sebuah catatan yang dimuat Harian Merdeka pada 11 Juni 1996, “Selamat Jalan Bapak BM Diah.”

Sebelum Pak Diah meninggal dunia, sepertinya beliau masih sempat membaca buku Ibu Herawati Diah,”Kembara Tiada Berakhir.” Setelah Pak Diah meninggal dunia, muncul lagi buku “B.M.Diah, Wartawan Serba Bisa.” Hanya sayang buku yang terakhir ini tidak sempat dibaca Pak Diah, karena terbit pada 1997. Pak Diah meninggal dunia tahun 1996.

Terlepas dari itu semua di Ulang Tahun Ibu Herawati Diah selain mengucapkan selamat ulang tahun, saya juga entah sudah berapa kali mengucapkannya. Juga kehadiran Pak Harmoko di acara Situ Gintung, Ciputat. Juga kehadiran Pak Sofjan Lubis dan Pak Tarman Azam.Terimakasih

Sebagian konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kehadiran Pak Harmoko dan Ibu Herawati di Situ Gintung."

Kreator: Dasman Djamaluddin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni Bersama Wartawan Pelita dan Sripo

ALI ALATAS BENAR, BLAIR MINTA MAAF

Mendiskusikan Profil Mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah